Rabu, 11 April 2012

silsilah raja Mataram Kuno


Kurun Waktu
Nama Raja atau Penguasa
Prasasti
Peristiwa
717—760
Prasasti Canggal (732), Prasasti Wanua Tengah 3
Sanjaya, putra Sannaha, keponakan Sanna memulihkan keamanan, mempersatukan kerajaan dan naik takhta, sejarahwan lama menafsirkannya sebagai berdirinya Wangsa Sanjaya, sementara pihak lain menganggap ia sebagai kelanjutan Sailendra
760—775
Prasasti Raja Sankhara, Prasasti Kalasan (778), Prasasti Wanua Tengah 3
Rakai Panangkaran beralih keyakinan dari memuja Siwa menjadi penganut Buddha Mahayana, pembangunan Candi Kalasan
775—800
Dharanindra (Rakai Panaraban)
Prasasti Kelurak (782), Prasasti Ligor B (sekitar 787) Prasasti Wanua Tengah 3
membangun Manjusrigrha, memulai membangun Borobudur (sekitar 770), Jawa menyerang dan menaklukan Ligor dan Kamboja Selatan (Chenla) (790)
800—827
Samaragrawira (rakai Warak)
prasasti nalanda Prasasti Ligor B (sekitar 787), Prasasti Wanua Tengah 3
 Ayah dari samaratungga dan anak dari Dharanindra dan disebut sebagai raja yang perkasa.Kamboja memerdekakan diri (802).
827-828
Dyah Gula
Prasasti Wanua Tengah 3

828—847
Samaratungga (rakai Garung)
Prasasti Karangtengah (824), Prasasti Wanua Tengah 3
merampungkan Borobudur (825)
848—855
Pramodhawardhani berkuasa mendampingi suaminya Rakai Pikatan(Mpu Manuku)
Prasasti Siwagrha (856) atau prasasti Wantil.prassti Argopura, prasasti Munduan 807  prasasti Kayumwungan 824 prasasti Tulang Air 850, Prasasti Wanua Tengah 3
Mengalahkan dan mengusir Balaputradewa yang menyingkir ke Sumatera (Sriwijaya). Menurut prasasti Wantil Membangun Candi Prambanan dan Candi Plaosan, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu Mataram & Rakai Mamrati turun takhta dan menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat. prassti Argopura, pada tahun 856 perkawinan Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan Mpu Manuku dengan Pramodawardhani dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana. prasasti Munduan 807  Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. prasasti Kayumwungan 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar, prasasti Tulang Air 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan
856- 885
Rakai KayuWangi Dyah Lokapala
Prasasti Argopura. prasasti Wantil. Prasasti Wuatan Tija. prasasti Kalirungan tahun 883. Prasasti Wanua Tengah 3
Menurut prasasti Wantil atau prasasti Siwagerha tanggal 12 November 856, Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Sang Jatiningrat (gelar Rakai Pikatan sebagai brahmana). Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, yang bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka. 10 Desember 880 Rakai Kayuwangi mengeluarkan prasasti untuk menganugerahi para pemuka desa Wuatan Tija karena mereka telah berjasa menolong putranya yang bernama Dyah Bhumijaya
885(8 bulan)
Dyah Tagwas
Prasasti Wanua Tengah 3

885- 887
prasasti Poh Dulur, 890, Prasasti Wanua Tengah 3

887
Rakai Gurun Wangi
prasasti Munggu Antan, 887, Prasasti Wanua Tengah 3

887- 898
Rakai Wulkahumalang
prasasti Panunggalan, Prasasti Wanua Tengah 3
prasasti Panunggalan tanggal 19 November 896 menyebut adanya tokoh bernama Sang Watuhumalang Mpu Teguh, namun tidak bergelar maharaja, melainkan hanya bergelar haji
899- 910
Rakai Dyah Balitung
prasasti Telahap (899), Prasasti Telang tanggal 11 Januari 904, Prasasti Mantyasih tanggal 11 April 907, Prasasti Wanua Tengah 3
Dyah Balitung yang merupakan menantu Rakai Watuhumalang (raja Medang pengganti Rakai Kayuwangi) berhasil menjadi pahlawan dengan menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga kembali mengakui kekuasaan tunggal di Kerajaan Medang. Maka, sepeninggal Rakai Watuhumalang, rakyat pun memilih Balitung sebagai raja daripada iparnya, yaitu Mpu Daksa. Prasasti Telang tanggal 11 Januari 904 berisi tentang pembangunan komplek penyeberangan bernama Paparahuan yang dipimpin oleh Rakai Welar Mpu Sudarsana di tepi Bengawan Solo. Prasasti Poh tanggal 17 Juli 905 berisi pembebasan pajak desa Poh untuk ditugasi mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silunglung peninggalan raja sebelumnya yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Raja ini merupakan kakek dari Mpu Daksa dan permaisuri Balitung. Prasasti Kubu-Kubu tanggal 17 Oktober 905 berisi anugerah desa Kubu-Kubu kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan karena keduanya berjasa memimpin penaklukan daerah Bantan. Prasasti Mantyasih tanggal 11 April 907 berisi tentang anugerah kepada lima orang patih bawahan yang berjasa dalam menjaga keamanan saat pernikahan Dyah Balitung
910- 919
Mpu Daksa
Prasasti plaosan,prasasti Talahap, prasasti Ritihang tanggal 13 September 914, prasasti Timbangan Wungkal
prasasti Timbangan Wungkal 913 Masehi. Isinya tentang pengaduan Dyah Dewa, Dyah Babru, dan Dyah Wijaya yang dulu mendapatkan hak istimewa dari Rakai Pikatan, namun kemudian dipermasalahkan oleh Dang Acarya Bhutti yang menjabat sebagai Sang Pamgat Mangulihi.Selain itu ditemukan pula prasasti Ritihang tanggal 13 September 914 tentang persembahan hadiah dari Mpu Daksa untuk permaisurinya.
919- 921
Dyah Tulodhong
prasasti Lintakan
Prasasti Harinjing tanggal 19 September 921 berisi pengukuhan anugerah untuk anak-anak Bhagawanta Bhari yang berjumlah 12 orang dan tersebar di mana-mana. Bhagawanta Bhari adalah tokoh yang berjasa membangun bendungan pencegah banjir. Ia sendiri telah mendapat anugerah dari raja sebelumnya.Prasasti untuk anak-anak Bhagawanta Bhari diperbaharui lagi pada tanggal 7 Maret 927, di mana mereka mendapatkan desa Culanggi sebagai sima swatantra (daerah bebas pajak). Pembaharuan tersebut dilakukan oleh Rakai Hino Mpu Ketuwijaya, atas saran dari Rakai Sumba yang menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah.
921- 927
Dyah Wawa
prasasti Culanggi, prasasti Wulakan tanggal 14 Februari 928
prasasti Sangguran tanggal 2 Agustus 928 tentang penetapan desa Sangguran sebagai sima swatantra (daerah bebas pajak) agar penduduknya ikut serta merawat bangunan suci di daerah Kajurugusalyan.
929- 947
Mpu Sindok

Prasasti Turyan tahun 929 berisi permohonan Dang Atu Mpu Sahitya terhadap tanah di barat sungai desa Turyan supaya dijadikan sebagai tempat bangunan suci. Prasasti Linggasutan tahun 929 berisi tentang penetapan desa Linggasutan, wilayah Rakryan Hujung Mpu Madhura Lokaranjana, sebagai sima swatantra untuk menambah biaya pemujaan bathara di Walandit setiap tahunnya. Prasasti Gulung-Gulung masih dari tahun 929 berisi tentang permohonan Rake Hujung Mpu Madhura agar sawah di desa Gulung-Gulung dijadikan sima bagi bangunan suci Mahaprasada di Himad.Prasasti Cunggrang juga bertahun 929 berisi tentang penetapan desa Cunggrang sebagai sima swatantra untuk menrawat makam Rakryan Bawang Dyah Srawana, yang diduga sebagai ayah dari sang permaisuri Dyah Kebi.Prasasti Jru-Jru tahun 930 berisi tentang permohonan Rake Hujung Mpu Madhura supaya desa Jru-Jru di daerah linggasutan dijadikan sima swatantra untuk merawat bangunan suci Sang Sala di Himad.Prasasti Waharu tahun 931 berisi tentang anugerah untuk penduduk desa Waharu yang dipimpin Buyut Manggali, karena setia membantu negara melawan musuh.Prasasti Sumbut juga bertahun 931 berisi tentang penetapan desa Sumbut sebagai sima swatantra karena kesetiaan Mapanji Jatu Ireng dan penduduk desa itu menhalau musuh negara.Prasasti Wulig tanggal 8 Januari 935 berisi tentang peresmian bendungan di Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya yang dibangun para penduduk desa Wulig di bawah pimpinan Sang Pamgat Susuhan. Peresmian ini dilakukan oleh seorang istri Mpu Sindok bernama Rakryan Mangibil.Prasasti Anjukladang tahun 937 berisi tentang penetapan tanah sawah di desa Anjukladang sebagai sima swatantra dan persembahan kepada bathara di Sang Hyang Prasada, serta pembangunan sebuah jayastambha atau tugu kemenangan. Tugu ini sebagai peringatan atas kemenangan melawan serangan Kerajaan Sriwijaya yang mencapai daerah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar